Sabtu, 22 Mei 2010 | 15:23 WIB

KOMPAS.com — Banyak pihak khawatir Thailand sekaligus rakyatnya akan punya trauma berkepanjangan pascakekerasan antara tentara melawan kelompok “Kaus Merah”. Bahkan, kerusakan secara psikis itu dikhawatirkan bakal permanen.

Media massa seperti The Nation, AP, AFP, ataupun Bangkok Post dalam pelbagai catatan mereka pada Sabtu (22/5/2010) mencatat, setidaknya 84 nyawa putus sia-sia. Sementara ratusan orang mengalami luka-luka.

Namun, yang juga bakal muncul secara psikologis adalah kebencian dan perpecahan, meski Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva sudah mengutarakan pentingnya rehabilitasi dan rujuk nasional. Abhisit bahkan sudah menegaskan juga kalau dirinya bersedia berunding dengan semua kelompok masyarakat.

Pada satu sisi, standar ganda masih terasa setelah pada akhirnya Kaus Merah dipaksa bubar dari pusat kota Bangkok. Pemerintah nyatanya masih mengecap para pengikut mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra sebagai “teroris”. Padahal, menurut para pengamat, Kaus Merah cuma rakyat idealis yang meminta penegakan keadilan dan penetapan status sama.

Maka dari itulah, tantangan bagi Abhisit adalah membuat dirinya sendiri mampu bersikap netral demi rekonsiliasi murni. Kalau tidak, sebagaimana diisyaratkan Wakil Ketua Partai Demokrat Kraisak Choonhavan ataupun pakar sosiologi Profesor Amorn Wanichwiwatana dari Universitas Chulalongkorn di Bangkok, yang tertinggal hanya luka menganga setelah kekerasan-kekerasan berjalan begitu lama.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/05/22/15231276/Yang.Tertinggal.Hanya.Luka.Menganga

<!–/ halaman berikutnya–>